“Tell me whom you love and
I will tell you who you are
Will you be my valentine?”
Meti meremas secarik kertas tanpa dosa di genggamannya. Tulisan cantiknya yang mengisi ruang kecil lembaran putih itu berkerunyut kusut. Valentine! Valentine! Huh! Kapan dia akan mendapat memo cinta seperti itu dari seorang pangeran impiannya? Seperti Rosa, seperti Pupuy, Lula, atau Sarah. Mereka semua sudah punya pacar dan segudang rencana menjelang hari kemerdekaan cinta, 14 Februari itu. Bahkan, sejak minggu-minggu ini, sebelum angka-angka di kalender Januari menunjuk nilai tertinggi.
13 Mar 2012
10 Mar 2012
Puteri Hujan Mama
Hari ini hujan lagi.
Otakku menjadi kisut karena kedinginan.
***
“Aku antar pulang , yuk,” tawar April padaku. Aku mengangguk, hari ini aku mampir ke rumah April yang tinggal di desa tetangga. Niatnya sih mau pinjam beberapa buku Kimia—kecelakaan itu membuatku tertinggal pelajaran−tapi karena hujan, aku terpaksa pulang sedikit lebih sore.
April menyuruhku membonceng motornya.
Dia mengoceh ini itu. Tapi perhatianku tidak tertuju sepenuhnya pada ucapan April.
Seorang nenek tua melambai padaku di depan gubuknya ketika kami melintasinya.
Ragu-ragu aku membalas lambaiannya.
Aku tidak mengenalnya, tetapi dia selalu ada di depan rumahnya setiap kali aku main ke rumah April.
“Kamu ngapain, Ka ?” tanya April. Dia pasti melihatku melambai lewat kaca spion.
“Eh, enggak.”
Gubuk nenek tua itu terlewat.
Dan beberapa menit kemudian, kami sudah berada di depan rumahku.
***
Otakku menjadi kisut karena kedinginan.
***
“Aku antar pulang , yuk,” tawar April padaku. Aku mengangguk, hari ini aku mampir ke rumah April yang tinggal di desa tetangga. Niatnya sih mau pinjam beberapa buku Kimia—kecelakaan itu membuatku tertinggal pelajaran−tapi karena hujan, aku terpaksa pulang sedikit lebih sore.
April menyuruhku membonceng motornya.
Dia mengoceh ini itu. Tapi perhatianku tidak tertuju sepenuhnya pada ucapan April.
Seorang nenek tua melambai padaku di depan gubuknya ketika kami melintasinya.
Ragu-ragu aku membalas lambaiannya.
Aku tidak mengenalnya, tetapi dia selalu ada di depan rumahnya setiap kali aku main ke rumah April.
“Kamu ngapain, Ka ?” tanya April. Dia pasti melihatku melambai lewat kaca spion.
“Eh, enggak.”
Gubuk nenek tua itu terlewat.
Dan beberapa menit kemudian, kami sudah berada di depan rumahku.
***
Pergi Untuk Satu
Rambutnya yang panjang di terpa angin malam kota kecil yang dingin. Matanya bulat dan indah, tubuh standar wanita timur, dengan kulit putih langsat yang eksotik. Dia berdiri di depan jendela kamarnya memandang kerlip bintang di langit gelap. Dia adalah Emellie, seorang perempuan usia 21 tahun. Walupun tidak berkuliah Emellie adalah perempuan yang pintar, bekerja di sebuah majalah terkenal dan memiliki banyak teman.
Malam itu hari ketiga masa cutinya, istirahat sejenak dari semua hiruk pikuk kota dan segala pekerjaan kantor yang melelahkan. Emellie pergi ke sebuah kota kecil di daerah pegunungan. Menyewa sebuah vila kecil di tepi danau yang tenang. Angannya melayang jauh pada peristiwa satu tahun yang lalu. Kecelakaan yang merenggut nyawa kekasihnya Johan. Air mata mengalir menyusuri pipi lembut Emellie lalu jatuh ke lantai yang dingin. Johan tewas ketika dalam perjalan menuju sebuah kafe favorit Emellie untuk merakan hari jadi mereka yang ke tiga. Semua hal tentang Johan muncul seketika di benak Emellie malam itu. Saat dimana Johan menyatakan cinta kepada Emellie di depan rumahnya. Waktu itu Emellie masih SMA sedangkan Johan adalah teman kuliah Rey kakak Emellie. Saat dimana Johan selalu mengecup lembut bibir Emellie ketika mereka akan berpisah di depan rumah Emellie. Tak sadar Emellie menggigit bibir bawahnya yang merah. Selama setahun kematian Johan, tak satu pun ia menerima pernyataan cinta dari beberapa teman laki-lakinya.
Malam itu hari ketiga masa cutinya, istirahat sejenak dari semua hiruk pikuk kota dan segala pekerjaan kantor yang melelahkan. Emellie pergi ke sebuah kota kecil di daerah pegunungan. Menyewa sebuah vila kecil di tepi danau yang tenang. Angannya melayang jauh pada peristiwa satu tahun yang lalu. Kecelakaan yang merenggut nyawa kekasihnya Johan. Air mata mengalir menyusuri pipi lembut Emellie lalu jatuh ke lantai yang dingin. Johan tewas ketika dalam perjalan menuju sebuah kafe favorit Emellie untuk merakan hari jadi mereka yang ke tiga. Semua hal tentang Johan muncul seketika di benak Emellie malam itu. Saat dimana Johan menyatakan cinta kepada Emellie di depan rumahnya. Waktu itu Emellie masih SMA sedangkan Johan adalah teman kuliah Rey kakak Emellie. Saat dimana Johan selalu mengecup lembut bibir Emellie ketika mereka akan berpisah di depan rumah Emellie. Tak sadar Emellie menggigit bibir bawahnya yang merah. Selama setahun kematian Johan, tak satu pun ia menerima pernyataan cinta dari beberapa teman laki-lakinya.
26 Feb 2012
Senyum Terpahit
Sahabat adalah dia yang menghampiri saat dunia menjauh. .
Sahabat bagai bulan purnama yang bersinar saat malam. .
Aku tersenyum sengit mendengar puisi yang di baca temanku di depan kelas. karena aku teringat kejadian beberapa tahun yang lalu, kejadian itulah yang membuat aku tidak mudah percaya dengan orang lain.
Waktu itu aku masih duduk di bangku smp, aku tidak begitu peduli dengan yang namanya cinta. Aku mempunyai seorang sahabat yang sangat aku percaya semua masalah yang melanda aku, tidak segan-segan aku ceritakan semua masalah ku padanya, sebaliknya pun begitu.
Sahabat bagai bulan purnama yang bersinar saat malam. .
Aku tersenyum sengit mendengar puisi yang di baca temanku di depan kelas. karena aku teringat kejadian beberapa tahun yang lalu, kejadian itulah yang membuat aku tidak mudah percaya dengan orang lain.
Waktu itu aku masih duduk di bangku smp, aku tidak begitu peduli dengan yang namanya cinta. Aku mempunyai seorang sahabat yang sangat aku percaya semua masalah yang melanda aku, tidak segan-segan aku ceritakan semua masalah ku padanya, sebaliknya pun begitu.
Hantu Aisyah
Malam itu di asrama anak laki-laki panas sekali. Dan Husein masih belum bisa tidur. Berkali-kali ia membalikkan badannya di tempat tidur sambil mengumpat-umpat.
"Kenapa aku harus tidur secepat ini? Aku kan sudah sehat!"
Sudah tiga hari ia menempati klinik asrama karena radang tenggorokan yang dideritanya. Sebenarnya sore itu dokter sudah menyatakan bahwa ia sudah sembuh, tapi ia hanya mengijinkan untuk kembali ke kamarnya esok paginya.
"Besok saja ya, sekarang kan tanggung, kamarmu yang dulu belum dibersihkan. Nanti kalau kamu sakit lagi gimana? Kamu nggak mau penyakitmu bertambah parah kan?" Dokter Hamed berujar sambil tersenyum. Suster Ema yang berdiri di samping pak dokter ikut mengiyakan sambil mengacak-acak rambut Husein.
"Kenapa aku harus tidur secepat ini? Aku kan sudah sehat!"
Sudah tiga hari ia menempati klinik asrama karena radang tenggorokan yang dideritanya. Sebenarnya sore itu dokter sudah menyatakan bahwa ia sudah sembuh, tapi ia hanya mengijinkan untuk kembali ke kamarnya esok paginya.
"Besok saja ya, sekarang kan tanggung, kamarmu yang dulu belum dibersihkan. Nanti kalau kamu sakit lagi gimana? Kamu nggak mau penyakitmu bertambah parah kan?" Dokter Hamed berujar sambil tersenyum. Suster Ema yang berdiri di samping pak dokter ikut mengiyakan sambil mengacak-acak rambut Husein.
25 Feb 2012
Tuhan Punya Rancangan Terbaik
Me (panik): God,bolehkan aku tanya sesuatu?
God: silahkan
Me: Janji Engkau tidak akan marah?
God: Aku janji
Me(frustrasi): Mengapa Engkau biarkan banyak hal terjadi padaku hari ini?
God: Maksudmu?
Me: Aku terlambat bangun.
God: Ya
Me: Mobilku tidak bisa distarter
God: Oke
Me (ngedumel): sandwich untuk makan siangku salah dan harus menunggu lama
God: Hmmmm..
Me: Dalam perjalanan pulang Handphone ku mati saat aku angkat telp0n masuk
God: Baiklah
God: silahkan
Me: Janji Engkau tidak akan marah?
God: Aku janji
Me(frustrasi): Mengapa Engkau biarkan banyak hal terjadi padaku hari ini?
God: Maksudmu?
Me: Aku terlambat bangun.
God: Ya
Me: Mobilku tidak bisa distarter
God: Oke
Me (ngedumel): sandwich untuk makan siangku salah dan harus menunggu lama
God: Hmmmm..
Me: Dalam perjalanan pulang Handphone ku mati saat aku angkat telp0n masuk
God: Baiklah
24 Feb 2012
Akhir Harapanku
Matahari tepat di atas kepalaku, sinarnya seolah ingin memanggang semua yang berada di bawahnya. Terdengar deburan ombak yang bekejar-kejaran kemudian membentur dinding karang. Angin berhembus dengan nafasnya yang lembut, sangat menyejukkan, sedikit mengusir sengatan matahari. Aku berdiri di atas buih-buih pasir putih, memandang riaknya air yang sangat luas namun seperti ada jurang di ujung sana. Sebersit kenangan itu terlihat kembali di benakku, tentang aku dan dia. Hhhh. . .mengapa kenangan itu hadir lagi, padahal sudah lama, yah. . .sangat lama. Entah dimana dia saat ini.
Langganan:
Postingan (Atom)