Rambutnya yang panjang di terpa angin malam kota kecil yang dingin. Matanya bulat dan indah, tubuh standar wanita timur, dengan kulit putih langsat yang eksotik. Dia berdiri di depan jendela kamarnya memandang kerlip bintang di langit gelap. Dia adalah Emellie, seorang perempuan usia 21 tahun. Walupun tidak berkuliah Emellie adalah perempuan yang pintar, bekerja di sebuah majalah terkenal dan memiliki banyak teman.
Malam itu hari ketiga masa cutinya, istirahat sejenak dari semua hiruk pikuk kota dan segala pekerjaan kantor yang melelahkan. Emellie pergi ke sebuah kota kecil di daerah pegunungan. Menyewa sebuah vila kecil di tepi danau yang tenang. Angannya melayang jauh pada peristiwa satu tahun yang lalu. Kecelakaan yang merenggut nyawa kekasihnya Johan. Air mata mengalir menyusuri pipi lembut Emellie lalu jatuh ke lantai yang dingin. Johan tewas ketika dalam perjalan menuju sebuah kafe favorit Emellie untuk merakan hari jadi mereka yang ke tiga. Semua hal tentang Johan muncul seketika di benak Emellie malam itu. Saat dimana Johan menyatakan cinta kepada Emellie di depan rumahnya. Waktu itu Emellie masih SMA sedangkan Johan adalah teman kuliah Rey kakak Emellie. Saat dimana Johan selalu mengecup lembut bibir Emellie ketika mereka akan berpisah di depan rumah Emellie. Tak sadar Emellie menggigit bibir bawahnya yang merah. Selama setahun kematian Johan, tak satu pun ia menerima pernyataan cinta dari beberapa teman laki-lakinya.
Emellie masih terpaku di dapan jendela kamar vilanya. Dia hanya ingin menikmati rasa rindu yang mendalam terhadap Johan. Di balik rasa sedihnya tebentuk senyum dari bibir tipisnya. Kedewasaan yang di ajarkan oleh Johan kepadanya membentuk Emellie yang pandai melihat situasi. Saat dikantor tak sekalipun Emellie menunjukan kesedihannya karena kehilangan kekasih yang sangat ia sayangi. Emellie mulai beranjak dari bibir jendela itu menuju tempat tidur putih yang empuk. Sebenarnya ia tak ingin terus larut dalam kesedihannya ini, perlahan Emellie menutup matanya. “Ini malam terakhir aku menikmati kesedihanku.” Kata Emellie dalamhati.
Perlahan ia menarik selimut tebal yang harum untuk mentupi tubuhnya. Matanya terpejam namun angannya masih melayang. Emellie ingin merubah hidupnya, ia ingin mulai membuka hatinya untuk seorang laki-laki lain dan tidak terperangkap dalam kenangan masa lalunya. Lalu ia tersenyum dalam tidurnya malam itu.
Keesokan harinya Emellie terbangun, ia merasa sangat segar. Tidurnya nyenyak sekali, seperti pelampiasan dua hari dua malam tak memejamkan mata. Emellie berjalan menuju depan teras depan vilanya. “Eeehhhmmhh...” Emellie menarik otot-otot tubuhnya, sambil menghirup udara pegunungan yang segar. Hari ini adalah hari terakhir masa cutinya, jadi nanti malam ia harus sudah sampai di rumah. Emellie ingin sekali lagi menikmati pemandangan indah danau yang terletak di samping vilanya. Setelah mandi dan sarapan Emellie berjalan menyusuri danau berair hijau namun jernih itu.
Matanya terhenti pada benda cemerlang di atas rumput hijau. Lalu ia mengambil benda itu. “waahh..indah sekali, milik siapa ini?” gumamnya, sambil meliahat sekeliling danau tapi tak seorang pun ia lihat. Sebuah kalung dengan liontin berbentuk seperti tetesan air yang jernih tergeletak begitu saja di atas ruput hijau bak permadani. Dan tak seorang pun ada disana kecuali Emellie. Kemudian ia melanjutkan berjalan menyusuri danau dan masih menggenggam kalung berliontin indah itu. Setalah puas menikmati suasana danau, Emellie pun kembali ke vila dan bersiap siap untuk pulang kerumahnya
Dua bulan kemudian...
Siang itu saat Emellie masih di kantor.Tiba-tiba ia mendapat telefon dari seorang laki-laki yang bernama Mario.
“Halo..selamat siang” sapa Mario di seberang telefon.
“Iya selamat siang siapa ini?” tanya Emellie.
“Saya Mario. Saya ingin sekali bertemu dengan kamu Emellie.
Emellie bingung, siapa orang yang menelfonnya ini. “Anda siapa, kenapa ingin bertemu dengan saya?”
Dengan nada ramah Mario menjawab. “Ada sesuatu yang ingin saya jelaskan kepada kamu Emellie, tentang kalung yang kau temukan di tepi danau.”
“Oh..itu milik anda?” jawab Emellie terkejut. “Baiklah saya akan menggembalikannya kepada anda.” Masih dengan rasa bingung di kepalanya.
“Baiklah Emellie sampai nanti. Aku akan menunggumu di cafe sebelah kantor kamu. Selamat siang Emellie.”
“I..iya, sampai nanti. Selamat siang.” Jawab Emellie masih dengan rasa bingung di otaknya. Bagaimana bisa ada seorang laki-laki yang tiba tahu namanya, bahkan tahu dimana ia bekerja. “Heeeeehhhh....” Emellie mengacak acak rambut panjangnya. Jam makan siang tinggal tigapuluh menit lagi. Tapi Emellie merasa seperti tiga jam. Sampai akhirnya jam makan siang tiba, Emellie bergegas keluar kantor, menuju cafe. Entah engapa Emellie merasakan hal yang aneh dalam hatinya. Tapi ia tidak tahu kenapa.
“Bego..gimana caranya aku tahu orang yang menelfonku tadi.” Batin Emellie sesampainya di depan cafe. “Aku telfon aja deh.” Emellie mencari ponselnya di dalam tas, tapi sepertinya ketinggalan, karna tadi ia terburu-buru. “ Heeeehhh....!!!!” Emellie menghela nafas kesal.
“Emellie.” Sapa seorang laki-laki, dengan kemeja hitam membalut dadanya yang cukup bidang, dengan bau harum pafum maskulin. Sangat pas dengan warna kulitnya yang cukup bersih untuk ukuran laki-laki. Sekilas senyum terlukis di wajah laki-laki itu, manis sekali.
Dengan sedikit terkejut Emellie menoleh ke arah Mario. “Eh...iya. saya Emellie.” Sembil merapikan rambutnya yang berantakan akibat tergesa-gesa tadi. “ Anda Mario?” tanya Emellie.
“ Iya saya Mario, ayo kita masuk.” Jawab Mario. Emellie hanya mengangguk pelan.
Sesampainya di dalam cafe dan memesan makan siang mereka mulai berbincang. Perbincangan sederhana layaknya dua orang yang baru pertamakali bertemu. Sampai akhirnya Emellie bertanya siapa sebernarnya Mario ini. Apa hubungannya dengan kalung yang ia temukan di danau waktu itu.
“Begini Emellie, sebenarnya akulah yang dengan sengaja meletakkan kalung itu di pinggir danau, agar kamu bisa menemukannya.” Terang Mario.
Emellie masih belum mengerti apa maksud laki-laki yang berada di depannya ini. Sebelum sempat bertanya lagi, sepertinnya Mario bisa membaca kebingungan yang ada di kepala Emellie saat ini. “ Sudah satu tahun ini aku memperhatikan kamu Emellie. Dan aku tahu banyak tentang kamu dari Johan.”
Mendengar nama itu Emellie sangat kaget, seperti tersambar petir di siang hari yang snagat cerah ini. “ Johan?!!” Tanya Emellie tidak percaya. “ Maksud kamu, Johan.....” Emellie tak kuasa melanjutkat kalimatnya itu.
“ Iya, Johan yang meninngal satu tahun yang lalu akibat kecelakaan saat dalam perjalanan menemui kekasihnya. Dia adalah sahabat karibku sejak SMP. Satu hari sebelum kecelakaan itu Johan menunjukkan kalung itu kepadaku. Dia bilang kalung itu untuk Emellie, sebagi hadiah hari jadi kalian berdua.” Kemudian, Mario mengeluarkan sesuatu dari kantong celannya. “ Dan ini adalah cincin yang ingin dia berikan juga untukmu Emellie. Johan ingin mengajakkmu bertunangan malam itu. Tapi sayang, dia pergi untuk selamannya sebelum sempat mewujudkan keinginannya itu.” Mendengar cerita Mario, air mata menggenang di pelupuk mata Emellie. Sampai akhirnya air mata itu jatuh menyusuri pipi Emellie. Ia tak mampu berkata apa-apa, meskipun beribu tanda tanya ada di kepalanya. “ Saat itu mungkin Mario sudah berfirasat bahwa dia akan pergi untuk selamanya. Karena Johan telah berpesan kepadaku.”
***
Satu hari sebeleum kematian Johan.
Seperti biasa Mario sedang bermain game di kamarnya. Lalu Johan tiba-tiba masuk dan melemparkan diri di tempat tidur Mario.
“ Main masuk kamar orang sembarangn aja. Kenapa sumringah gitu muka lo? Abis naik gaji?.” Tanya johan. Saat melihat wajah sahabatnya yang tumben sumringah banget.
“ Besok gue mau gajak Emellie tunangan bro.” Sambil menunjukkan kotak cincin dan sebuah kalung dari saku celananya. “ Besok malem gue mau ngrayain hari jadi yang ke tiga gue sama Emellie. Kalung ini buat hadiah hari jadi, dan cincin ini kejutan buat dia, karna gue mau ngjak dia tunangan.”
“ Gila...keren juga. Cinta mati lo sama dia? Kapan nih di kenalin ke gue..kitakan shabatan dari SMP, masa cewek lo ngga tahu kalo elo punya sahabat sebaik dan seganteng gue padahal kalian udah tiga tahun jadian?”
Sambil tertawa Johan menjawab pertanyaan dan pernyataan sahabatnya itu. “ Tenang aja, pasti tar gue kenalin. Ngga mungkin gue ngga minta restu ke elo. Gue takut kalo tar pas gue udah kenalin cewek gue, elo langsung jatuh cinta lagi.”
“Hahahahaaa....mana mungkin gue mau ngrebut cewek sahabat gue sendiri?”
“ Ya..siapa tahu. Tapi kalo gue besok udah dah ngga bisa jagain Emellie elo gantiin gue buat jagain dia ya?” kata Johan tiba-tiba serius.
“ Ngomong paan sih elo?” jawab Mario sambil melempar bantal ke wajah Johan.
***
“ Polisi menemukan kalung dan cincin ini di saku celana Johan saat dia di bawa ke rumah sakit.” Jelas Mario. Sedangkan Emellie sudah tak mampu berfikir lagi mendengar kenyataan yang baru saja ia dengar, dari mulut seorang laki-laki yang baru pertamakali ia temui. Emellie membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya untuk menopang kepalanya yang berat. Air mata telah membanjiri telapak tangannya.
***
Dua bulan setelah pertemuan pertama Emellie dan Mario di cafe itu. Hubungan mereka sudah cukup dekat. Emellie mulai membuka perasaanya untuk Mario, dan Mario pun telah mengungkapkan isi hatinya bahwa ia memang sudah jatuh hati kapada emellie sejak awal ia mulai memperhatikan emellie dari jauh. Mario suka dengan keceriaan Emellie, suka dengan gaya penampilannya, dan semua tentang Emellie. Tidak salah jika Johan sangat mencintai Emellie.
Sore itu Emellie di jemput Mario di kantornya. Setelah itu mereka melanjutkan makan malam bersama. Emellie merasa nyaman berada di samping Mario. Dia merasa Mario adalah malaikat penjaga yang di kirim Johan untuknya.
Sesampainya di rumah Emellie merebahkan tubuhnya di tempat tidur kamarnya. Di raihnya bingkai foto yang di dalamnya terdapat gambar Johan yang sedang tersenyum sambil merangkul pundaknya. Emellie tersenyum mengenang sosok di dalam foto itu. Tek sadar Emellie terlelap sambil mendekap bingkai foto di dadanya.
Tiba tiba Emellie melihat Johan dalam bentuk empat dimensi di depannya. Seketika Emellie menghambur kepelukan Johan. Di tempat yang sangat indah penuh dengan bunga dan rumput yang hijau membentang luas. Emellie belum pernah melihat tempat ini sebelumnya. “ Johan...aku kangen banget sama kamu. Ini dimana?” Tanya Emellie manja.
“ Inilah tempatku sekarang Emellie. Aku juga sangat merindukanmu.” Jawab Johan sambil mengusap-usap rambut Emellie. “ Aku senang Mario menjagamu dengan baik.”
“ Bolehkah aku tinggal disini bersamamu?” tanya Emellie.
“ Tentu saja, aku akan selalu menunggumu di sini Emellie.” Jawab Johan lembut.
Samar samar tubuh Johan mulai menjauh dari Emellie. Dan akhirnya hilang sempurna dari pandangan Emellie. Tapi Emellie tak bisa bergerak untuk mengejar Johan, bahkan ia tak mampu lagi bersuara untuk memanggil Johan.
Air mata kembali mengalir dari pelipuk mata Emellie. Nafasnya sesak dan keringat membasahi tubuhnya. Emellie terbangun dari mimpinya. Emellie tahu ia hanya bermimpi, tapi ia masih ingin melepas kerinduannya terhadap Johan walau hanya dalam mimpi.
Keesokam harinya Emellie merasa malas untuk beranjak dari tempat tidurnya. Tapi ia harus pergi ke kantor, Emellie tidak mau mengecewakan rekan kerjanya hanya karena persaannya yang sedikit tidak beraturan setelah pertemuannya dengan Johan malam tadi. Akhirnya Emellie beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. Setelah sarapan dengan Ayah dan Ibunya, Emellie berangkat ke kantor.
Dengan taksi Emellie melewati jalanan kota yang cukup lengang di bandingkan hari-hari biasanya. Emellie meminta sopir taksi agar lebih cepat mengemudikan taksinya. Emellie tidak ingin berlama-lama melamun di dalm tkasi itu.
Tiba-tiba.....CIIIIITTTT.....JEDEERRRRRRRRRRRRRRR!!
Emellie medengar suara itu, tapi seketika ia tidak mendengar apa-apa lagi. Taksi yang ditumpangi Emellie mengalami kecelakaan. Taksi yang melaju cukup kencang itu tidak mampu menghindar ketika seorang pelajar tiba-tiba menyebrang. Sampai akhirnya sang supir memutar kemudinya dan menginjak rem dalam-dalam, lalu taksi itu terbalik di tengah jalan.
“ Selamat pagi Emellie.” Sapa mario dengan senyum manis dan setangkai bunga mawar putih di tangannya. Meskipun Emellie tidak sedikiktpun merespon Mario, tiap kali Mario datang menjenguknya di rimah sakit. Terang saja Emellie tidak merespon Mario, sudah tiga minggu Emellie koma, akibat kecelakaan itu. Setiap pagi Mario datang untuk memberi bunga kepada Emellie. Mario berharap Emellie segera bangun dari komanya. “ Maafin gue Han, gue ngga bisa jagain Emellie.” Batin Mario ketika ia duduk di samping tubuh Emellie yang terlihat kurus. Digenggamnya tangan Emellie erat.
Sedangkan, dalam keadaan komanya. Emellie sebenarnya tahu Mario setiap pagi datang untuk menyapanya dan membawa bunga mawar putih untuknya. Emellie merasakan cinta baru dari Mario. Emellie juga tahu Mario juga selalu mengecup keningnya saat ia akan pergi. Namun Emellie tak bisa memberi isyarat bahwa sebenarnya ia juga mencintai Mario. Tapi cintanya untuk Johan masih tetap ada bahkan masih sama besarnya dan masih ia simpan di dalam lubuk hatinya yang terdalam.
Tiiittt....tiiitt...tiiitt....tiba-tiba suara alat deteksi jantung Emellie mengeluarkan suara nyaring. Mario panik, lalu ia berkali-kali memencet tombol pemanggil dokter.
“ Johan....Johaaaan....” Emellie melihat Johan bersama seseorang berbaju putih yang belum pernah ia lihat. Johan tersenyum kepada Emellie.
“ Apa kamu masih ingin tinggal bersamaku?” Tanya Johan.
“ Tentu saja, apakah kamu datang menjemputku?”
“ Bukan aku yang menjemputmu, tapi malaikat ini yang menejemputmu. Tapi jangan sedih, nanti kita akan bertemu di surga.” Jelas Johan.
“ Emellie waktu kamu sudah habis, aku datang untuk menjemputmu.” Kata malaikat itu.
Ketika dokter datang, kotak deteksi jantung Eemellie tidak mengeluarkan suara yang putus-putus lagi. Berganti dengan suara yang yang panjang melengking, dan garis di monitor pun menunjukkan garis lurus yang panjang mendatar.
Emellie pergi untuk selamanya. Dia pergi meninggalkan Mario. Dengan ikhlas Mario melepas kepergian Emellie.
“ Tugas gue udah kelar bro.” Kata Mario di depan nisan Johan. “ Gue yakin sekarang cinta Emellie dan cinta lo abadi di surga.” Tiba-tiba angin berhembus pelan, menerbangkan sepotong kertas bertuliskan “TERIMAKASIH” ke hadapan Mario. Mario trsenyum lega sembari menggenggam potongan kertas itu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 Comments:
Posting Komentar