Pages

2 Apr 2012

Berawal Dari Sebuah Permainan (Part 2)


*wah! Harus cepat-cepat beli hadiah!!! HARUS!* aku pun langsung menancap gas dan menuju toko milik kak Rita, hehe.. mungkin aja di kasi diskon sama kakak ku ini. jangan Cuma diskon! Bisa-bisa di kasih gratis kalau alasannya untuk “seseorang yang spesial” hahaha.
            “sore kak. Gimana nih? Ramai ngak pengungjung?” tanyaku sambil menuju kearah kasir tempat kakak ku berdiri. “eh, tumbenan datang ke toko kakak? Apaan? Mau beli hadiah untuk seseorang yang spesial yah?” tanya kak Rita dengan tertawa. “eh, belum di bicarain, udah di tau akal gue. Hehehe” kataku. “yee, lo kan datang ke sini untuk beli hadiah doang. Ngak mungkin mau ngebantu jagain toko.” Kata kakak ku. “hehe, jadi? Gratis yah?” kata ku lagi. “yee, bisa bangkrut nih! Yah, tapi untuk saudara satu-satunya ngak apa-apa deh.” Jawab kak Rita. “yes! Makasih ya kak.. hahaha” sambung ku.

            Lama berkeliling di toko kakak. Akhirnya ketemu hadiah yang pas! Aku langsung mengambil kalung yang ada di dalam kotak, entah berapa harganya yang penting langsung aku ambil dan memperlihatkannya ke kakak. “kak, yang ini yah?” kataku sambil memperlihatkan kotak merah kecil itu, dan membukanya. “apaa??! Rio, emang lo tau ini kalung harganya berapa?” tanya kak Rita kaget melihat aku membawa kalung itu. “eh, emang napa kak?” tanyaku heran. “aduhh, kak.. udah jam stenga 6 nih, bentar jam 7 Rio udah harus ngasih nih hadiah. Pergi dulu ya kak.” Kataku sambil memasukan kotak kalung itu di dalam kantong celana. “eh iya iya.. hati-hati di jalan” balas kakakku.
            *oh iya, setelah aku bertanya ke kak Rita pada hari minggu, tentang harga kalung itu. Kak Rita bilang kalau harganya Rp 388.000,00. Kemahalan atau kemurahan untuk sebuah hadiah nih? Ngak tau ah, pokoknya tuh kalung bagus banget. Makanya aku langsung ambil dari toko.*
            Jam udah nunjuk pukul 6:20PM. *gila, belum mandi lagi!! Arrgh, terlambat terlambat dan terlambat!* 14 menitan berada di dalam kamar mandi, akhirnya aku langsung menuju “lemari khusus” untuk semua koleksi jas. mulai dari model-model yang lama sampai sekarang. Akhirnya setelah 7 menitan memilih jas yang mau di pakai. Mataku tertuju dengan jas warna putih dengan kemeja ungu, celana putih, dan dasi putih di dalamnya. *ah, ini mungkin cocok nih* bergegas ku memakai itu semua. *wow, seperti mau ke acara pernikahan aja.* jam ku sudah menunjukan pukul 6:55PM! Aargh, bisa-bisa Stella batalkan hukuman yang menyenangkan ini!. Ah! Ngak boleh!!
            Sewaktu lagi dalam mobil, eh hp berdering. Ternyata message dari Stella. “Rio, jangan lupa yah hukuman lo malam ini. Oh iya, jangan sampai lo make jas putih yah! Gue..” yaah!! Kok smsnya terpotong sih?! Lagian, udah hampir sampai di tempat tujuan malah baru di message untuk ngak makai jas putih. Aduh? Gimana?? Balik dan ganti jas? atau jalan terus? Ah, sudah lah. Udah di hampir sampai juga.
            7 Menit kemudian, akhirnya aku sampai di restoran tempat Stella biasa ngajak aku, Dodo, Juan, dan Nita makan bersama. Yaah! Parkiran malah penuh lagi! *soalnya parkirannya di gabungkan sama gedung di sebelah restoran juga sih, mungkin ada acara kali di gedung sebelah, makanya ngak ada yang kosong.* ah. Terpaksa harus mencari tempat kosong di sekitar sini.
            Akupun dengan ragu memegang pintu kaca itu, dan mulai mendorongnya. “mas, tamu yang bernama Stella duduknya di mana?” tanya ku pada seseorang yang memegang buku tamu di restoran itu. “oh, mas Rio yah? Mbak Stella dan yang lain sudah menunggu mas di tempat yang biasa mbak Stella pesan.” Jawab mas-mas yang menatapku dengan penuh senyum ramah. *Stella dan yang lain?* apa jangan-jangan? *ah! Kalungnya untung kebawa. Huh.*
            “Rio!” teriak seorang perempuan muda yang tak antara lain adalah Stella sambil melambai ke arah datangku. *loh ada ayah, ibu, dan Suki adiknya Stella di sini?* akupun langsung mengarah ke arah Stella dan keluarganya dengan grogi. *emm, pantes Stella suruh makai jas soalnya business man, ayahnya Stella ada di sini. Makai jas juga lagi.* Akupun segera menyalami Stella dan langsung menyapa ayah, ibu dan adik Stella. “eh, om.. apa kabar om? Lama tidak jumpa, tambah sehat nih om.” Kataku sambil menyalami tangannya. “eh, ternyata Rio toh yang..” “eh, papa.. bentar aja deh bahasnya” Kata Stella sambil memberi sebuah kode untuk tidak melanjutkan kalimat yang menggantung itu. “ayo ayo, silahkan duduk dek Rio” kata ayah Stella mempersilahkanku duduk. *loh? Kok ada 3 kursi kosong lagi di meja ini yah?* kataku dalam hati sambil melihat ke-3 tempat duduk yang kosong itu.
            Setelah 5-8 menitan berbincang dengan Stella dan keluarganya, tiba-tiba “HAPPY BIRTHDAY, HAPPY BIRTHDAY, HAPPY BIRTHDAY STELLA” terdengar suara dari belakangku yang mengagetkanku juga. Ternyata Dodo, Juan, Nita nyanyi lagu happy birthday buat Stella sambil memegang kue ulang tahunnya. *nah, untung gue udah nyiapin hadiah.*
            Melihat raut wajahku yang agak kebingungan dengan kehadiran 3 orang ini, Stella langsung Tertawa sambil menggenggam tangan ku. “eh” kataku terkejut sambil melihat Stella yang ternyata sedang tersenyum ke arah ku.
            “Stella, make a wish yaah. wajib” kata Nita sambil memeluk dan mencipika-cipiki pipi Stella. “eh, bro lo datang juga. Hahaha” kata Juan dan Dodo menyapaku. *mereka berdua juga make jas!!*. 3 Menitan Stella merem untuk make a wish, diapun membuka matanya dan langsung meniup lilin 17 Tahunnya itu. “anak mama udah bertambah satu tahun nih, tambah cantik aja yah. Hahaha” kata Ibunya Stella sambil memeluk anak sulungnya itu. “kak, nih hadiah dari Suki, hehe.. Happy sweet 17th yah” kata Suki, adik Stella yang berbeda 2 tahun di bawahnya sambil mencium pipi Stella. “Stell, ini hadiah dari papa dan mama yah..” kata ayah Stella sambil memberikan sebuah kotak kecil yang isinya adalah sebuah kunci untuk toko bakery yang ayah dan ibunya bangun untuk Stella, agar Stella dapat berbisnis dengan hobinya buat kue dan roti-roti. “wah, pah mah.. ini impian Stella dari lama! Mau punya usaha bakery! Hahaha.. thanks ya pah mah..” kata Stella.
            Dodo, Juan, dan Nitapun memberikan hadiah yang mereka persiapkan untuk Stella. “bro, lo ngak kasih hadiah?” tanya Dodo melihatku berdiri dengan wajah yang lugu. “eh, gue ada kok ada..” kataku sambil gugup. Akupun mengeluarkan kotak merah itu dari kantong celana dan memberikannya kepada Stella. “ciee” kata Dodo, Juan, Nita, Suki Kompak! Wajahku pun langsung memerah begitu saja. Melihat malam ini Stella tidak memakai perhiasan di lehernya, akupun beranikan diri untuk membuka kotak merah itu dan “Stell, boleh ngak kalau hadiah gue, lo langsung pakai di malam ulang tahun lo?” tanyaku sedikit ragu. “Boleh boleh” jawab Stella dengan senangnya. Akupun langsung membuka kaitan di kalung itu, dan lagsung melingkarkannya di leher Stella dan memasangnya. “wah, Rio bagus banget.. Thanks ya” Kata Stella sambil memelukku dengan erat. “i i iya Stell” jawab ku *YES! Gue di peluk sama Stella!! Hahaha*
            Jam tangan udah menunjukkan pukul 11.08PM kami semua larut dalam pesta kecil yang mewah ini. “Stell.. papa, mama, dan Suki mau pulang dulu yah.. sudah mulai kecapean” Kata ayah Stella sambil berpamitan. “oh iya, kamu mau ikut pulang dengan kami? Atau dengan teman-temanmu?” tanya mamanya Stella. “Tante, Om.. nanti biar Rio yang ngantar Stella pulang.. ok?” usulku. “ooh, baiklah.. biar si Rio yang membawa pulang putri papa ini. Hahaha” jawab ayah Stella tertawa. “iya iya.. biar kak Rio saja yang nganterin pulang yah!” sambung Suki. “okedeh, ingat Rio, jaga putri tante baik-baik yah. Hehe” kata mama Stella sambil berpamitan kepada kami semua.
            “emm, Stell.. kami ber-3 pulang dulu yah.. hehehe. Ngak mau ngerusak acara yang satu ini.” Kata Juan sambil berpamitan kepada Stella dan aku. “iya iya.. hati-hati dijalan yah kalian.” Sambung Stella sambil tersenyum. “bye Stell, bye Riooo” kata mereka ber-3 kompak. “iya iya.. hati-hati!!” kata ku.
            “emm, jadi? Lo mau langsung pulang atau gimana?” tanyaku membuka pembicaraan. “emm, kita duduk dulu di sini yah” kata Stella sambil menarik kursi di restoran itu. “eh, kok lo ngak bilang-bilang sih kalau lo ulang tahun hari ini?” tanya ku. “kirain lo inget. Ternyata ngak” jawab Stella datar. “eh eh.. bukannya ngak inget.. gue tau kapan lo ulang tahun, tapi gue lupa hari ini tuh tanggal berapa” jawabku menjelaskan. “oh.. gitu yah..” jawab Stella datar. “Ri.. sebenarnya lo nganggep gue itu apa sih?” tanya Stella pelan. “ha? Teman dong.. emang mau nganggep apaan lagi? Musuh? Ngak kan.. hahaha” jawabku sambil tertawa. *sebenarnya lo itu orang yang paling istimewa yang pernah gue kenal Stell. Tapi, ngak tau harus gimana cara untuk memberitahukannya.* “Ohh, gitu yah..” jawab Stella tertunduk. “loh? Kok jadi gini sih suasananya? Jadi ngak enak nih.” Kataku melihat tingkahnya. “Ri, kita pulang aja yah.” Kata Stella sambil berdiri dari kursi.
            *aduh, kok malah pulang sih? Apa salah jawab yah?* “eh, kok malah ngambek sih?” tanyaku sambil menahan tangannya. “siapa yang ngambek? Orang Cuma kelelahan doang kok.” Jawab Stella. “Stell, tunggu Stell”. Kataku sambil berdiri lalu memeluknya dari belakang. “Sebenarnya gue sayang banget sama lo. Tapi..” “Tapi apa Rio? Takut karna balasan yang gue beri gitu?” kata Stella sambil memotongku berbicara. “Bukan gitu Stell, gue Cuma ngak tau gimana harus memulai kata demi kata untuk nyatain itu Stell”. Stella pun berbalik ke arahku dengan tatapan yang penuh arti. “Rio, gue tuh tau kalau lo sebenarnya simpan perasaan ke gue. Dodo, Juan sama Nita selalu bilang ke gue. Makanya tadi waktu di sekolah kita ber-4 merencanakan semua ini Ri. Gue cuma mau tau sampai mana perasaan lo ke gue.” Aku pun terdiam beberapa menit. “Oke, gue mungkin pengecut. Pengecut karena ngak bisa berkata yang sejujurnya tentang apa yang gue rasa ke elo. Gue pengecut karena cuma bisa bahagiain lo dari belakang doang. Gue pengecut karena ngak tau harus berkata apa setiap ngeliat lo. Stell, gue suka, eh ngak. Gue sayang dan cinta sama lo..” Kataku sambil menjelaskan semua yang selama ini tertahan di dalam hati. “kenapa baru bilang sekarang sih Rio?” tanya Stella sambil meneteskan air matanya. “gue butuh waktu untuk ngumpulin keberanian itu Stell.” “Rio, coba lo bilangnya dari awal. Pasti kita tuh udah bertahan sampai sekarang.” “Maksud kamu?” “aduh, Rio Rio, masa kamu ngak ngerti juga sih? Lo baik ke gue, gue juga balesnya sama ke elo. Bukan karena mau membalas kebaikan lo. Tapi, gue juga suka sama lo. Gue tulus cinta lo.” “Cinta sama gue? Lo? Serius?” *ha?! Apa?! Begooo!! Begoo!! Emang gue begoo!!* “Semenjak masuk di SMA Ri!” kata Stella sambil memelukku.     
            “Stell” kataku pelan. “ya Ri?” jawab Stella memandangku. “kalau gue di beri kesempatan untuk menjaga lo. Merawat lo. Menyayangi dan mencintai lo sekarang dan sampai kita tua nanti, apa lo mau?” kataku Pelan. “Ngak! Gue ngak mau sampai tua! Gue maunya sampai kita sudah berada di luar alam sana. Meskipun telah menjadi butiran debu di tanah. Tapi, lo sama gue tetep bersama. Gue Cuma mau itu dari lo Ri.” “gu gu gue juga mau itu dari lo Stell.”
            Yah, dan malam itu pula menjadi malam yang sangat berharga buat aku dan Stella. Sekarang aku dan Stella sudah berumur 27 Tahun, kami berdua sudah menjalin hubungan rumah tangga.. yaaah kira-kira sudah hampir 4 Tahun kami menjalin hubungan rumah tangga kami, dan telah di karuniakan seorang anak yang lucu dan cantik seperti mamanya dan pintar seperti papanya.
*Jangan menunggu sesuatu. Tapi, cobah lah untuk mengejarnya. Meskipun kemungkinan akan pahit. Tapi, kalau kamu ngak pernah coba. Kamu ngak akan pernah tau kebahagiaan yang akan kamu lewatkan bersama orang itu.* 

0 Comments:

Posting Komentar

 
Cool Grey Outer Glow Pointer