*wah! Harus cepat-cepat beli hadiah!!! HARUS!* aku pun
langsung menancap gas dan menuju toko milik kak Rita, hehe.. mungkin aja di
kasi diskon sama kakak ku ini. jangan Cuma diskon! Bisa-bisa di kasih gratis
kalau alasannya untuk “seseorang yang spesial” hahaha.
“sore
kak. Gimana nih? Ramai ngak pengungjung?” tanyaku sambil menuju kearah kasir
tempat kakak ku berdiri. “eh, tumbenan datang ke toko kakak? Apaan? Mau beli
hadiah untuk seseorang yang spesial yah?” tanya kak Rita dengan tertawa. “eh,
belum di bicarain, udah di tau akal gue. Hehehe” kataku. “yee, lo kan datang ke
sini untuk beli hadiah doang. Ngak mungkin mau ngebantu jagain toko.” Kata
kakak ku. “hehe, jadi? Gratis yah?” kata ku lagi. “yee, bisa bangkrut nih! Yah,
tapi untuk saudara satu-satunya ngak apa-apa deh.” Jawab kak Rita. “yes!
Makasih ya kak.. hahaha” sambung ku.
Lama
berkeliling di toko kakak. Akhirnya ketemu hadiah yang pas! Aku langsung
mengambil kalung yang ada di dalam kotak, entah berapa harganya yang penting
langsung aku ambil dan memperlihatkannya ke kakak. “kak, yang ini yah?” kataku
sambil memperlihatkan kotak merah kecil itu, dan membukanya. “apaa??! Rio,
emang lo tau ini kalung harganya berapa?” tanya kak Rita kaget melihat aku
membawa kalung itu. “eh, emang napa kak?” tanyaku heran. “aduhh, kak.. udah jam
stenga 6 nih, bentar jam 7 Rio udah harus ngasih nih hadiah. Pergi dulu ya
kak.” Kataku sambil memasukan kotak kalung itu di dalam kantong celana. “eh iya
iya.. hati-hati di jalan” balas kakakku.
*oh iya,
setelah aku bertanya ke kak Rita pada hari minggu, tentang harga kalung itu.
Kak Rita bilang kalau harganya Rp 388.000,00. Kemahalan atau kemurahan untuk
sebuah hadiah nih? Ngak tau ah, pokoknya tuh kalung bagus banget. Makanya aku
langsung ambil dari toko.*
Jam udah
nunjuk pukul 6:20PM. *gila, belum mandi lagi!! Arrgh, terlambat terlambat dan
terlambat!* 14 menitan berada di dalam kamar mandi, akhirnya aku langsung
menuju “lemari khusus” untuk semua koleksi jas. mulai dari model-model yang
lama sampai sekarang. Akhirnya setelah 7 menitan memilih jas yang mau di pakai.
Mataku tertuju dengan jas warna putih dengan kemeja ungu, celana putih, dan
dasi putih di dalamnya. *ah, ini mungkin cocok nih* bergegas ku memakai itu
semua. *wow, seperti mau ke acara pernikahan aja.* jam ku sudah menunjukan
pukul 6:55PM! Aargh, bisa-bisa Stella batalkan hukuman yang menyenangkan ini!.
Ah! Ngak boleh!!
Sewaktu
lagi dalam mobil, eh hp berdering. Ternyata message dari Stella. “Rio, jangan
lupa yah hukuman lo malam ini. Oh iya, jangan sampai lo make jas putih yah!
Gue..” yaah!! Kok smsnya terpotong sih?! Lagian, udah hampir sampai di tempat
tujuan malah baru di message untuk ngak makai jas putih. Aduh? Gimana?? Balik
dan ganti jas? atau jalan terus? Ah, sudah lah. Udah di hampir sampai juga.
7 Menit
kemudian, akhirnya aku sampai di restoran tempat Stella biasa ngajak aku, Dodo,
Juan, dan Nita makan bersama. Yaah! Parkiran malah penuh lagi! *soalnya
parkirannya di gabungkan sama gedung di sebelah restoran juga sih, mungkin ada
acara kali di gedung sebelah, makanya ngak ada yang kosong.* ah. Terpaksa harus
mencari tempat kosong di sekitar sini.
Akupun
dengan ragu memegang pintu kaca itu, dan mulai mendorongnya. “mas, tamu yang
bernama Stella duduknya di mana?” tanya ku pada seseorang yang memegang buku
tamu di restoran itu. “oh, mas Rio yah? Mbak Stella dan yang lain sudah
menunggu mas di tempat yang biasa mbak Stella pesan.” Jawab mas-mas yang
menatapku dengan penuh senyum ramah. *Stella dan yang lain?* apa jangan-jangan?
*ah! Kalungnya untung kebawa. Huh.*
“Rio!”
teriak seorang perempuan muda yang tak antara lain adalah Stella sambil
melambai ke arah datangku. *loh ada ayah, ibu, dan Suki adiknya Stella di
sini?* akupun langsung mengarah ke arah Stella dan keluarganya dengan grogi.
*emm, pantes Stella suruh makai jas soalnya business man, ayahnya Stella ada di
sini. Makai jas juga lagi.* Akupun segera menyalami Stella dan langsung menyapa
ayah, ibu dan adik Stella. “eh, om.. apa kabar om? Lama tidak jumpa, tambah
sehat nih om.” Kataku sambil menyalami tangannya. “eh, ternyata Rio toh yang..”
“eh, papa.. bentar aja deh bahasnya” Kata Stella sambil memberi sebuah kode
untuk tidak melanjutkan kalimat yang menggantung itu. “ayo ayo, silahkan duduk
dek Rio” kata ayah Stella mempersilahkanku duduk. *loh? Kok ada 3 kursi kosong
lagi di meja ini yah?* kataku dalam hati sambil melihat ke-3 tempat duduk yang
kosong itu.
Setelah
5-8 menitan berbincang dengan Stella dan keluarganya, tiba-tiba “HAPPY
BIRTHDAY, HAPPY BIRTHDAY, HAPPY BIRTHDAY STELLA” terdengar suara dari
belakangku yang mengagetkanku juga. Ternyata Dodo, Juan, Nita nyanyi lagu happy
birthday buat Stella sambil memegang kue ulang tahunnya. *nah, untung gue udah
nyiapin hadiah.*
Melihat
raut wajahku yang agak kebingungan dengan kehadiran 3 orang ini, Stella
langsung Tertawa sambil menggenggam tangan ku. “eh” kataku terkejut sambil
melihat Stella yang ternyata sedang tersenyum ke arah ku.
“Stella,
make a wish yaah. wajib” kata Nita sambil memeluk dan mencipika-cipiki pipi
Stella. “eh, bro lo datang juga. Hahaha” kata Juan dan Dodo menyapaku. *mereka
berdua juga make jas!!*. 3 Menitan Stella merem untuk make a wish, diapun
membuka matanya dan langsung meniup lilin 17 Tahunnya itu. “anak mama udah
bertambah satu tahun nih, tambah cantik aja yah. Hahaha” kata Ibunya Stella
sambil memeluk anak sulungnya itu. “kak, nih hadiah dari Suki, hehe.. Happy
sweet 17th yah” kata Suki, adik Stella yang berbeda 2 tahun di
bawahnya sambil mencium pipi Stella. “Stell, ini hadiah dari papa dan mama
yah..” kata ayah Stella sambil memberikan sebuah kotak kecil yang isinya adalah
sebuah kunci untuk toko bakery yang ayah dan ibunya bangun untuk Stella, agar
Stella dapat berbisnis dengan hobinya buat kue dan roti-roti. “wah, pah mah..
ini impian Stella dari lama! Mau punya usaha bakery! Hahaha.. thanks ya pah
mah..” kata Stella.
Dodo,
Juan, dan Nitapun memberikan hadiah yang mereka persiapkan untuk Stella. “bro,
lo ngak kasih hadiah?” tanya Dodo melihatku berdiri dengan wajah yang lugu.
“eh, gue ada kok ada..” kataku sambil gugup. Akupun mengeluarkan kotak merah
itu dari kantong celana dan memberikannya kepada Stella. “ciee” kata Dodo,
Juan, Nita, Suki Kompak! Wajahku pun langsung memerah begitu saja. Melihat
malam ini Stella tidak memakai perhiasan di lehernya, akupun beranikan diri
untuk membuka kotak merah itu dan “Stell, boleh ngak kalau hadiah gue, lo
langsung pakai di malam ulang tahun lo?” tanyaku sedikit ragu. “Boleh boleh”
jawab Stella dengan senangnya. Akupun langsung membuka kaitan di kalung itu,
dan lagsung melingkarkannya di leher Stella dan memasangnya. “wah, Rio bagus
banget.. Thanks ya” Kata Stella sambil memelukku dengan erat. “i i iya Stell”
jawab ku *YES! Gue di peluk sama Stella!! Hahaha*
Jam tangan
udah menunjukkan pukul 11.08PM kami semua larut dalam pesta kecil yang mewah
ini. “Stell.. papa, mama, dan Suki mau pulang dulu yah.. sudah mulai kecapean”
Kata ayah Stella sambil berpamitan. “oh iya, kamu mau ikut pulang dengan kami?
Atau dengan teman-temanmu?” tanya mamanya Stella. “Tante, Om.. nanti biar Rio
yang ngantar Stella pulang.. ok?” usulku. “ooh, baiklah.. biar si Rio yang
membawa pulang putri papa ini. Hahaha” jawab ayah Stella tertawa. “iya iya..
biar kak Rio saja yang nganterin pulang yah!” sambung Suki. “okedeh, ingat Rio,
jaga putri tante baik-baik yah. Hehe” kata
mama Stella sambil berpamitan kepada kami semua.
“emm,
Stell.. kami ber-3 pulang dulu yah.. hehehe. Ngak mau ngerusak acara yang satu
ini.” Kata Juan sambil berpamitan kepada Stella dan aku. “iya iya.. hati-hati
dijalan yah kalian.” Sambung Stella sambil tersenyum. “bye Stell, bye Riooo”
kata mereka ber-3 kompak. “iya iya.. hati-hati!!” kata ku.
“emm,
jadi? Lo mau langsung pulang atau gimana?” tanyaku membuka pembicaraan. “emm,
kita duduk dulu di sini yah” kata Stella sambil menarik kursi di restoran itu.
“eh, kok lo ngak bilang-bilang sih kalau lo ulang tahun hari ini?” tanya ku.
“kirain lo inget. Ternyata ngak” jawab Stella datar. “eh eh.. bukannya ngak
inget.. gue tau kapan lo ulang tahun, tapi gue lupa hari ini tuh tanggal
berapa” jawabku menjelaskan. “oh.. gitu yah..” jawab Stella datar. “Ri..
sebenarnya lo nganggep gue itu apa sih?” tanya Stella pelan. “ha? Teman dong..
emang mau nganggep apaan lagi? Musuh? Ngak kan.. hahaha” jawabku sambil
tertawa. *sebenarnya lo itu orang yang paling istimewa yang pernah gue kenal
Stell. Tapi, ngak tau harus gimana cara untuk memberitahukannya.* “Ohh, gitu
yah..” jawab Stella tertunduk. “loh? Kok jadi gini sih suasananya? Jadi ngak
enak nih.” Kataku melihat tingkahnya. “Ri, kita pulang aja yah.” Kata Stella
sambil berdiri dari kursi.
*aduh,
kok malah pulang sih? Apa salah jawab yah?* “eh, kok malah ngambek sih?”
tanyaku sambil menahan tangannya. “siapa yang ngambek? Orang Cuma kelelahan
doang kok.” Jawab Stella. “Stell, tunggu Stell”. Kataku sambil berdiri lalu
memeluknya dari belakang. “Sebenarnya gue sayang banget sama lo. Tapi..” “Tapi
apa Rio? Takut karna balasan yang gue beri gitu?” kata Stella sambil memotongku
berbicara. “Bukan gitu Stell, gue Cuma ngak tau gimana harus memulai kata demi
kata untuk nyatain itu Stell”. Stella pun berbalik ke arahku dengan tatapan
yang penuh arti. “Rio, gue tuh tau kalau lo sebenarnya simpan perasaan ke gue.
Dodo, Juan sama Nita selalu bilang ke gue. Makanya tadi waktu di sekolah kita
ber-4 merencanakan semua ini Ri. Gue cuma mau tau sampai mana perasaan lo ke
gue.” Aku pun terdiam beberapa menit. “Oke, gue mungkin pengecut. Pengecut karena
ngak bisa berkata yang sejujurnya tentang apa yang gue rasa ke elo. Gue
pengecut karena cuma bisa bahagiain lo dari belakang doang. Gue pengecut karena
ngak tau harus berkata apa setiap ngeliat lo. Stell, gue suka, eh ngak. Gue
sayang dan cinta sama lo..” Kataku sambil menjelaskan semua yang selama ini
tertahan di dalam hati. “kenapa baru bilang sekarang sih Rio?” tanya Stella
sambil meneteskan air matanya. “gue butuh waktu untuk ngumpulin keberanian itu
Stell.” “Rio, coba lo bilangnya dari awal. Pasti kita tuh udah bertahan sampai
sekarang.” “Maksud kamu?” “aduh, Rio Rio, masa kamu ngak ngerti juga sih? Lo
baik ke gue, gue juga balesnya sama ke elo. Bukan karena mau membalas kebaikan
lo. Tapi, gue juga suka sama lo. Gue tulus cinta lo.” “Cinta sama gue? Lo?
Serius?” *ha?! Apa?! Begooo!! Begoo!! Emang gue begoo!!* “Semenjak masuk di SMA
Ri!” kata Stella sambil memelukku.
“Stell”
kataku pelan. “ya Ri?” jawab Stella memandangku. “kalau gue di beri kesempatan
untuk menjaga lo. Merawat lo. Menyayangi dan mencintai lo sekarang dan sampai
kita tua nanti, apa lo mau?” kataku Pelan. “Ngak! Gue ngak mau sampai tua! Gue
maunya sampai kita sudah berada di luar alam sana. Meskipun telah menjadi
butiran debu di tanah. Tapi, lo sama gue tetep bersama. Gue Cuma mau itu dari
lo Ri.” “gu gu gue juga mau itu dari lo Stell.”
Yah, dan
malam itu pula menjadi malam yang sangat berharga buat aku dan Stella. Sekarang
aku dan Stella sudah berumur 27 Tahun, kami berdua sudah menjalin hubungan
rumah tangga.. yaaah kira-kira sudah hampir 4 Tahun kami menjalin hubungan
rumah tangga kami, dan telah di karuniakan seorang anak yang lucu dan cantik
seperti mamanya dan pintar seperti papanya.
*Jangan menunggu sesuatu. Tapi, cobah lah untuk
mengejarnya. Meskipun kemungkinan akan pahit. Tapi, kalau kamu ngak pernah
coba. Kamu ngak akan pernah tau kebahagiaan yang akan kamu lewatkan bersama
orang itu.*
0 Comments:
Posting Komentar