Pages

7 Feb 2012

Selamanya Cinta (Part 2)

Nino menatap Luna dari jendela teras depan. Wajahnya menyiratkan lelah. Namun ia sengaja tak menunjukkannya di depan Luna. Bagaimana pun, Luna adalah satu-satunya gadis yang mampu membuat hatinya yang kelu lagi kebas ini, bisa merasakan hangatnya cinta.

Meski harus ditempuh dengan caci-maki yang keluar dari bibir mungil Luna, ia tak keberatan. Karena perasaan absurd tak berdasar itu kemudian jelas di mata pemuda itu.



Semuanya karena ia mencintai Luna. Sejak kapan, Nino sendiri ragu. Mungkin karena Luna "berbeda". Hanya gadis itulah yang menentangnya saat Vola, sahabat Luna, menangis karena Nino menolak cintanya. Hanya gadis itulah yang berani memanggilnya "Nino bodoh", "kelinci playboy", "jelek", dan semua panggilan aneh lainnya. Hanya gadis itu yang mampu membuat darahnya berdesir kala mata hitam Luna menusuk hati Nino. Dan hanya Luna lah yang mampu menghangatkan jiwa beku pemuda itu dengan kesederhanaannya, ketegasannya, keserampangannya, dan teriakan kasarnya yang dipersembahkan dengan ikhlas untuk Nino.

Satu helaan napas kembali Nino hembuskan untuk yang kesekian kalinya. Ada kalanya Nino tidak mengerti akan emosi Luna yang naik-turun bak roller coaster. Tapi bagaimana pun juga, Luna adalah Luna. Perempuan yang ia cintai.

PAATS! Semua lampu mati serentak. Begitu juga dengan rumah tetangga Luna. Keadaan gelap gulita.

JGEEER!!! Guntur mulai menyemarakkan malam yang sunyi akibat mati listrik. Blitz kilat pun tak ketinggalan untuk ikut bergabung. Hingga titik-titik air menjadi ujung dari semua pentas kemegahan orkestra alam tersebut. Angin membawa gumpalan air kesana-kemari hingga menciptakan badai yang menimbulkan simfoni abstrak.

Hujan semakin lebat dan udara dingin mulai menusuk tulang. Nino beranjak dari kursi teras dan masuk ke dalam rumah, dikuncinya pintu. Langkahnya terlihat sedikit ringan, seakan konser alam tadi mampu memompa semangatnya untuk lebih sabar menghadapi gadis yang mulai menceriakan hari-harinya itu (meski sebagian besar diisi dengan cek-cok).

Nino berjalan tanpa ragu ke ruang tengah, tempat Luna belajar tadi. Tapi ajaibnya, Nino tak menemukan Luna disana. Hilang tanpa jejak.

Setelah mencari dalam diam, Nino menemukan siluet seseorang di sudut ruangan.

JGEER!!! Guntur serta kilat kembali mengadu kekuatannya di orkestra alam. Dan kilat tersebut telah berjasa besar bagi Nino karena sinarya yang menyilaukan terpantul di tubuh seseorang. Itu...

"Luna?" Nino meraih kedua lengan Luna yang gemetaran. Giginya bergemeletuk dan keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya.

Luna mendongak. Nino shock saat mendapati air mata Luna yang mulai membanjir.

"Lu... Luna? Kenapa..." kalimat Nino terpotong karena tepat saat itu, Luna meninju-ninju dadanya.

"Dasar jahat! Kelinci playboy! Cowok jelek! Nino bodoh! Bodoh, bodoh, bodoh!!!!" Luna berteriak heboh. Nino masih tak mengerti maksud dari perkataan Luna. Dan barulah pemuda itu sadar apa yang terjadi saat guntur serta kilat kembali menunjukkan atraksinya, Luna pucat dan terdiam dalam takut yang mecekam batinnya.

Tubuh Luna kembali gemetaran. Tanpa membuang waktu, Nino memeluk, dan menggendong Luna. Gadis itu tak memberontak seperti biasanya, karena takut sudah menggenggam erat jiwanya. Sisi psikisnya telah terusik oleh trauma dan guncangan jiwa yang hebat hingga tubuhnya kaku dibuatnya.

Nino membuka pintu dan membaringkan Luna di kasurnya. Tubuhnya masih gemetaran menahan takut.

Melihatnya, kedua mata Nino meredup. Bisa-bisanya ia tinggalkan Luna di tengah badai yang menggila seperti ini. Dan bagaimana pula ia bisa lupa akan rasa takut Luna terhadap guntur dan kilat? Ah, dia memang bodoh!

Nino beranjak dan hendak duduk di salah satu sofa di kamar Luna. Tapi satu tarikan lemah di lengan bajunya menepis keinginannya untuk menapakkan kakinya barang selangkah.

"Ja, jangan tinggalin aku... aku, aku... takut." suara Luna yang serak mulai berkata. Kedua mata Luna berkaca-kaca. Sarat akan ketakutan yang nyata.

Nino berjongkok di samping tempat tidur Luna dan menatap sepasang bola mata yang mulai dihiasi rasa cemas.

"Kau... harus tanggung jawab! Mama sama Papa udah kasih amanah kan, kalau kau harus menjagaku!" tangan Luna yang gemetaran berusaha mencengkran lengan baju Nino. Alih-alih supaya terlihat garang, Nino malah tersenyum simpul.

"Apa yang harus saya lakukan Tuan Puteri?"

Luna memalingkan wajahnya yang merona sambil berkata, "Te, temani aku... disini."

Bersambung...

0 Comments:

Posting Komentar

 
Cool Grey Outer Glow Pointer