Persahabatan itu indah, sahabat itu tulus sahabat itu akan selalu ada untuk saling melengkapi. Seperti pelangi dan jingga, jingga hadir untuk melengkapi hidup pelangi, tanpa jingga pelangi kehilangan satu bagian dari kekutaanya dan bahkan mungkin tak akan ada pelangi yang indah tanpa hadirnya jingga. Begitupula dengan jingga, ia tak mampu hidup sendiri hatinya akan rapuh bila pelangi tak disampingnya
“mentari aku mohon pulang sebentar saja, lalu jemput hujan untuk menemaniku disini. Aku ingin sekali melihat pelangi, tolong aku” ucapku mencoba merayu sang mentari. Wajahku terlihat sangat pucat, mataku terasa sangat sembab setelah beberapa jam terus menatap sebuah bingkai foto. “pelangi cepat datang” jeritku pilu lalu setetes demi setetes turun buliran bening yang mengguyur tubuh mungilku. “terimakasih mentari, kamu mau mengalah untuku” ucapku sambil menciptakan sebuah senyuman, senyuman termanisku ditengah kepiluan.
Hujan semakin deras, tapi aku tetap berdiam diri menyimpan sejuta harapan pada hujan berharap hujan mau mengabulkan permintaanku, ya bertemu Pelangi satu hal yang di harapkanku saat ini. “hujan, terimakasih sudah mau datang” ucapku dengan senyum penuh pengharapan, seakan mengerti apa yang di ingnkanku hujan pun berpamitan padaku dan membawakan sesuatu yang di ingikanku saat ini “pelangi akhirnya kau datang” ucapku seraya berlari menghampiri pelangi “terimakasih” lanjut ku senang “aku sudah janji aku akan datang, dan sekarang aku sudah penuhi janjiku padamu” ucap pelangi sambil memeluk ku “aku merindukanmu, ku mohon jangan tinggalkan aku lagi” pintaku pada pelangi “tentu saja, aku akan selalu ada disampingmu dan tak akan pernah meninggalkanmu lagi” ujar pelangi yang kemudian di sambut oleh senyuman yang terukir di wajah orientalku.
***
“hey sudah malam kenapa kau belum tidur” Tanya pelangi yang mengagetkanku, “aku terlalu senang dengan kehadiranmu, aku ingin selalu didekatmu aku takut kamu akan pergi meninggalkan aku lagi” ucapku lirih “hey, lihat aku” pintanya sambil mengagkat wajahku untuk menghadapnya “aku disini, aku tak akan pernah meninggalkanmu, bahkan saat kau terlelap nanti aku akan tetap disampingmu” ujarnya penuh ketulusan. Ini yang kusuka darinya ketulusannya yang tidak pernah dimiliki semua orang “kau janji pelangi?” Tanya ku “tentu saja, aku janji akan selalu menjagamu sahabatku” kata pelangi seraya memeluku, sentuhan hangatnya ini yang selalu ku rindukukan, terimakasih Tuhan kau telah kirim aku malaikat seprti pelangi, aku janji aku tak akan pernah membuatnya terluka.
“Pelangi terimakasih kau mau bangkitkan kebahagiaanku lagi yang sudah sekian lama terenggut oleh kepedihan. Jingga akan selalu menjagamu pelangi, jingga sudah berjanji akan setia padamu, setia menemanimu mengobati hati siapapun yang tengah terluka, jingga akan bahagiakanmu seprti mu yang selalu melindungi jingga” batinku bergumam
Malam semakin larut, tapi mataku enggan terpejam mungkin karena terlalu bahagia karena separuh jiwaku hadir kembali, datang untuk menyembuhkan luka hati yang sudah merenggut kebahagiaanku, pelangi beribu ucapan terimakasih ku ucapkan padamu, kamu tahu aku bahagia kau mau kembali padaku, aku menyayangimu pelangi.
***
“jingga ayo bangun” kata pelangi sambil mengguncangkan tubuh mungilku “sudah pagi yah?” Tanya ku sambil mengerakan sendi-sendi tubuhku “iya jingga ku sayang, ayo bangun aku sudah membutakanmu sarapan” ujar pelangi gemas “iya iya aku bangun” kataku sambil melemparkan semyum padanya
Pelangi memang kini tingggal bersamaku, aku yang memintanya untuk menemaniku disini karena jujur saja rumahku yang cukup luas ini hanya ditempati oleh ku dan dua orang pembantu, mami papi ku terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan mereka bahkan mungkin mereka sudah lupa dengan putrinya, ah sudahlah aku sedang tak mau menangis aku masih punya pelangi dan tak ada lagi yang aku mau selalin pelangi
“ini kau yang masak ?” Tanya ku sambil mengunyah nasi goreng buatan pelangi “kenapa? Kau tak percaya yah kalau aku bisa membuat makanan seenak ini? Hehe” ucap pelangi bangga “haha aku memang tak percaya, sungguh ini buatanmu?” kata ku sambil tersenyum jail “jelas dong ini kan special untuk jingga” kata pelangi yang membuat hati ku tertegun “terimakasih, lagi-lagi aku merepotkanmu” ucap ku lirih “hey, aku senang bisa melakukan ini padamu jingga” ucap pelangi sambil memeluku, air mataku menagis deras dipelukannya, dan bercampur menjadi satu dengan darah segar yang keluar dari hidungku, ah kenapa harus sekarang? “jingga, kamu sakit?” Tanya pelangi khawatir, ah lagian kenapa sih si merah ini harus hadir dan mengacaukan semuanya “engga pelangi aku baik-baik saja” kata ku mencoba menenangkan pelangi dari kekhawatirannya padaku “kamu gak usah bohong padaku, jujurlah?” pinta nya “aku tidak bohong, ini hanya mimisan biasa sebentar lagi juga akan sembuh” ucapku seraya tersenyum “benarkah?’ Tanya nya lagi, dengan cepat aku menganggukan kepalaku, dan sepertinya pelangi percaya sama ucapanku
Pelangi maaf, lagi-lagi aku mengecawakanmu, aku melakukan ini semata-mata hanya untuk membuatmu bahaagia dan tak khawatir padaku, aku terlalu sayang padamu bahkan aku enggan melihat wajahmu yang cantik dipenuhi dengan buliran bening itu. Aku terlalu menyayangimu pelangi. Meski ku tahu kau tak suka dengan caraku ini.
Pagi ini cuaca terlihat sangat mendung, sepertinya hujan akan kembali mengguyur bumi tapi taka pa aku senang hujan hadir pagi ini, aku ingin mengucapkan banyak-banyak terimakasih pada hujan karena telah mengabulkan permintaanku, hujan memang teman tebaiku.
“kau sedang apa?” kata pelangi mengagetkanku “sedang menunggu hujan” jawabku, sambil menatap kearah luar jendela “untuk apa kau menunggu hujan?” Tanya nya lagi, sepertinya pelangi bingung dengan ucapanku “lihat saja nanti” kataku seraya tersenyum, lucu sekali melihat wajah pelangi yang kebingungan seperti itu. Tik tik tik kudengar suara gemercik hujan, aku sambut kehadirannya dengan senyum ketulusan yang terukir di wajahku “tuh hujan nya udah datang, kau mau bicara apa sama hujan?” Tanya pelangi “kau mau tahu?” kata ku balik bertanya “tentu saja” jawabnya antusias“hujan makasih sudah mau datang lagi, aku hanya mau bilang termakasih padamu karena kau sudah kembalikan malaikat aku, makasih sudah mau membawa kan kebahagiaanku, aku tidak akan melupakan jasamu hujan” kataku pada hujan, kulirik pelangi ia hanya tertawa melihat tingkahku “haha kau lucu sekali jingga” kata pelangi sambil tak henti-hentinya tertawa “kenapa kau malah menertawakan ku?” tanyaku heran “kenapa kau harus berterimakasih sama hujan? Memangnya siapa malaikatmu yang sudah dibawakan hujan?” ucap nya “kau tahu pelangi? Hujan itu baik padaku, dia memberikan apa yang aku mau, dia udah bawa malaikat aku, dan kamu tahu malaikat aku itu kamu” jawabku, kulihat muka pelang terlihat sedih “kau kenapa?” Tanya ku khawatir “maaf dulu aku meninggalkanmu, aku tak bermaksud membuatmu sedih jingga” ujar pelang sambil meneteskan buliran air mata dpelupuk matanya yang indah “gak papa pelangi, aku bisa menegerti sudahlah jangan menagis” kata ku seraya menghapus air mata pelangi “aku janji akan menebus semua kesalahanku dulu” ucapnya sambil memeluku, lalu kubalas pelukan hangat itu.
Sahabat kebahagiaan terbesarku adalah memilikimu, cahaya terang yang mempu menerangi jalan redupku, kamu yang selalu mengajarkanku tentang arti kesabaran dari setiap penantian yang kau berikan. Pelangi kamu memang benar-benar seperti pelangi, kamu mampu berikan aku sentuhan kasih sayang yang kau lukiskan didasar hatku. Kelembutanmu, kedewasaan mu itulah yang selalu aku rindukan saat sosokmu mulai menjauh dari hidupku. aku sungguh bahagia punya sahabat sepertimu, maaf karena aku terlalu sering mengecewakanmu.Pelangi satu hal yang paling berarti dalam hidupku, sahabat terbaik yang tak akan pernah ku temui di ujung dunia ini, tak ada yang bisa sepertinya meskipu beribu-ribu pelangi yang hidup didunia ini tapi tak ada satupun yang seperti pelangi ku.
“ahh kenapa harus sekarang?” marahku pada diriku sendiri, terus ku pegangi kepalaku yang rasanya mau meledak, cairan merah terus keluar begitu saja dari hidungku. Tuhan kenapa tak kau beri aku kesempatan untuk menikmati kebahagiaanku ini? Apa aku tak pantas? Kumohon beri aku sedikit waktu untuk menikmati kebahagiaanku ini. Dengan tenang aku coba berjalan menaiki anak tangga dan masuk kekamarku mencari sesuatu yang sedang menjadi temanku sejak 1 tahun ini. “akh akhirnya aku menemukanmu” lirihku sambil mendekatinya. Dengan cepat aku segera menemuinya, berharap temanku ini mampu memberikan kesembuhan untukku ya setidaknya agar pusing ku ini segera berkurang.
“jinggaaaa, kau dimana?” teriak seseorang yang sudah tak asing bagiku, dengan panik aku segera menyembunyikan obatku, aku tak ingin dia mengetahui semua ini “jingga, kau dengar aku?” teriaknya lagi, kudengar langkah kakinya menuju kearahku “ya, aku dikamar ngi” jawabku dengan setengah teriak “ada apa?” tanyaku berusaha tenang, meski sebenarnya rasa pusing ini terus aja hinggap dikepalaku, huh ternyata temanku itu tak mau membantuku mengusir penyakit ini “tidak, aku hanya ingin mengajakmu kesuatu tempat” ujarnya dengan penuh keceriaan “kemana?” tanyaku heran karena saat ini hujan sedang turun dengan derasnya “nanti juga kau akan tau, ayo ikut aku” ajaknya sambil menarik lenganku, aku hanya menggeleng dan tersenyum kecil. Pelangi memang seperti ini kalau sudah punya keinginan harus selalu dturuti “nih kau pegang” suruhnya sambil memberikanku payung berwarna pelangi “sekarang hujan jadi harus bawa payung” ucapnya sambil membuka payung berwarna jingga yang di genggamnya sedari tadi “ayo” ajaknya dan ku hanya mengikuti saja kemana langkah kakinya akan menuntunku.
***
30 menit sudah aku dan pelangi berjalan menyusuri komplek perumahanku ditemani gemercik hujan yang sedari tadi menemani perjalanan kami, entah mau kemana pelangi mengajakku. bukan apa-apa sejujurnya ku sudah tak sanggup lagi berjalan rasanya kakiku ini sudah tak kuat lagi menopang tubuhku, raungan kesakitan terus saja menggema di kepalaku semua sel-sel yang ada di kepalaku seakan berteriak minta tolong berusaha agar bisa terbebas dari kutukan musuh-musuhnya “nah ayo duduk, kita sudah sampai” ucap pelangi saat aku dan dia sudah sampai di tempat yang pelangi maksud. Taman cinta inilah tempat yang dimaksud pelangi, tempat penuh kenangan dengan sejuta rahasia yang tersimpan disini “kau kenapa? Ayo duduk, hujan nya juga sudah reda” kata pelangi membuyarkan semua ingatanku tentang tempat ini “kenapa kau ajak aku kesini?” ucap ku coba menanyakan sambil duduk disebelahnya “aku hanya ingin mengenang tempat sejarah ini” jawabnya sambil menajamkan pandangannya pada langit senja yang baru saja hadir setelah hujan berpamitan padanya “aku rindu tempat ini, tempat dimana aku bertemu bidadari cantik yang membuat hidupku berwarna, dimana di tempat ini pula aku melakukan kesalahan terbesar ku, kesalahan yang telah membuat aku melakukan hal yang patal yaitu membuat JINGGA ku menangis” lanjutnya tanpa memalingkan pandangannya “pelangi..” lirihku “aku memang bodoh, manusia terbodoh yang pernah dilahirkan kedunia ini, ah harusnya Tuhan tidak menurunkan manusia sebodoh aku ini untuk menginjakan kaki di dunia yang fana ini. Harusnya aku tak dibiarakan bertemu dengan malaikat sepertimu jika pada akhirnya aku harus membuatmu menangis” lagi-lagi pelangi terus menyalahkan dirinya, aku pun ikut terbang dalam suasana haru itu, dan entah dapat perintah darimana otakku ini terus berputar mengingatkan aku pada peristiwa pahit itu.
“pelangi kau yakin mau meninggalkan aku?” tanya ku pada pelangi yang saat itu memwaba kabar bahwa ia akan meninggalkanku di sini sendiri “maaf jingga aku memang harus pergi” ujarnya dengan suara parau, bola matanya yang indah sirna seketika saat cairan hangat meluncur dengan suksek di pelupuk matanya “tapi kenapa secepat ini? Kau bahkan tak memberitahu aku tentang semua ini, apa salahku?” teriakku sambil mengguncangakan tubuh pelangi, tapi ia hanya diam hanya suara isakan tangis yang ku dengar darinya “jawab aku pelangi, mana janjimu?” bentaku dengan lirih “jingga dengar aku, aku tak punya niat sedikitpun untuk menyakitimu, aku bahkan terlalu menyayangmu makanya aku tak sampai hati memberitahumu tentang ini, orang tua ku yang meminta aku untuk ikut bersama mereka ke Singapore, berkali-kali aku memohon kerendahan hati mereka untuk membatalakan niatnya tapi apa yang aku dapat? Mereka terus bersikeras dengan kemauannya, maaf kan aku jingga” tutur pelangi sambil memeluk erat tubuhku “kau akan kembali lagi kan ngi?” ucapku penuh pengharapan berharap pelangi menjawab IYA atas pertanyaanku “tentu saja, aku akan kembali di tempat ini untuk mu jingga” jawabnya disertai senyuman yang mulai terlukis di paras cantik nya itu “janji?” kata ku sambil mennganggkat kelingkingku “janji” kata pelangi sambil menautkan kelingkingnya dengan kelingkingku, aku langsung memeluknya memeluk erat tubuh nya yang penuh dengan kehangatan, “maaf jingga aku harus pergi” ucap pelangi sambil melepaskan pelukanku, dan tak lama kemudian mobil pelangi pun datang dan membawa pelangi pergi dari hadapanku.
“jujur saja aku memang sakit saat kau pergi meninggalkan aku begitu saja, kau tau setiap har aku datang ketempat ini untuk menagih janjimu. Tapi ternyata apa yang ku dapat? Kau tak kunjung datang juga aku bahkan lelah terus menunggumu disini” jujurku pada pelangi kulihat ia semakin merasa bersalah “jingga maafkan aku” pintanya sambil berlutut di hadapanku “hey kau apa-apan? Ayo bangun aku tak suka kau lakukan ini, aku sudah memaafkan mu pelangi” suruhku sambil mengangkat tubuh pelangi agar tak berlutut dihadapanku lagi “aku sudah memaafkan mu” lanjutku lagi disertai dengan seulas senyuman yang terukir diwajahku “makasih jingga, kau memang sahabat terbaiku” kata pelangi sambil memeluk tubuhku “hey kesana yuk, lihat pelangi nya sudah datang” ajakku pada pelangi, pelang tersenyum dan mengikuti langkahku menuju bukit yang bisa kami datangi saat pelangi tiba “indah yah ngi?” tanyaku sambil duduk di rerumputan hijau yang masih basah karena hujan tadi “tentu saja indah, kerena dalam pelangi terselip jingga yang membuatnya semakin indah” ucapnya sambil terus memandangi pelangi yang hadir di senja ini “pelangi aku mau jujur padamu” terang ku pada pelangi, mungkin ini adalah saat yang tepat “kau mau jujur apa?” tanya pelangi “sebenarnya selama ini aku menyembunyikan suatu hal padamu, sebenarnya aku sakit ngi. Semenjak kau pergi saat itu, aku mengidap penyakit, penyakit yang sangat mematikan. KANKER OTAK para dokter memanggilnya seperti itu. Sudah 1 tahun penyakit ini menemaniku, menggerogoti tubuhku yang sebenranya sudah rapuh saat kau tinggalkan aku, tapi entahlah mungkin ini adalah takdir yang Tuhan berikan untukku” jelasku pada pelangi, kulihat ia membungkam wajahnya tersirat penuh kesedihan “sudah tak usah sedih seperti itu sekarang aku sudah membaik ko” kataku berusaha meyakinkan pelangi “benarkah itu?” tanyanya yang mendapat anggukan dari kepalakku “pelangi bolehkah aku meminjam bahumu? Aku ingn tidur tapi kau tak usah bangunakn aku, aku sangat lelah sekali” pinta ku pada pelangi “silahkan, tidur yang nyenyak ya Jingga, aku tak akan membangunkanmu biar kau bisa istirahat dengan tenang” jawbanya lembut sambil menyenderkan kepalaku di bahunya “aku menyayangimu sahabatku” ucapku lirih sambil menutup mataku untuk selamanya “aku pun begitu, selamat tinggal jingga” lirih pelangi sambil mengusap lembut rambutku.
Tamat
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mentari,, jangan pernah bersedih
BalasHapuskalau saja aq bisa merubah kisah cerita, aq ingin menulis ulang kisah cerita kamu,, aq ingin memperbaiki cerita kamu,, aq ingin ada dalam cerita kamu..
Mentari semua org pasti akan pergi, tak terkecuali aq,, aq bnyk belajar dr kamu
Mentari aq sayang kamu
Jadikan aq bagian cerita dari hidupmu
dan aq akn bahagia karna mentari adh bagian hidupku
Jadikan aq pelangi utk sang mentari
ALLAHU AKBAR